Kamis, 14 November 2013

BUAT YESUS, APA SIH YANG NGGAK ?

Minggu, 17 November 2013, Minggu Biasa 33
Bacaan Injil: Luk 21:5-19

Para murid akan mengalami penderitaan. Ini dikatakan sendiri oleh Yesus kepada murid-muridNya dalam perikop Injil minggu ini. Menderita karena apa? Menderita karena percaya dan bersaksi tentang Yesus. Tetapi penderitaan seperti apa yang akan dialami? Apakah sabda Yesus ini (telah) benar-benar terjadi?
Ada beberapa bentuk penderitaan yang dikatakan Yesus. Pertama, Bait Allah akan diruntuhkan: “...akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Semuanya akan diruntuhkan.” Yerusalem telah mengalami kebenaran kata-kata Yesus ini. Demikian pula Gereja Indonesia kini. Tercatat sudah sekian banyak gereja dan sekolah Katolik yang dirusak atau ditutup. Mendirikan gerejapun menjadi urusan yang sangat sulit. Sehingga di beberapa tempat saudara seiman kita bukan hanya tidak bisa mendapatkan tempat yang layak untuk merayakan Ekaristi, tetapi bahkan kesempatan untuk berkumpul-berdoapun dibatasi. Bagaimana dengan kita? Apakah kenyataan ini juga adalah pengalaman gereja kita? Bangunan gereja kita mungkin tidak diruntuhkan. Tetapi (bisa jadi) semangat ke gereja itulah yang sedang runtuh.  
Kedua, “...banyak orang akan datang dengan memakai namaKu dan berkata: Akulah Dia, dan saatnya sudah dekat.” Inilah bahaya nabi-nabi palsu dengan pewartaan palsu pula. Tentang bahaya ini Yesus meminta kita waspada dan jangan mengikuti mereka. Masih segar dalam ingatan kita beberapa kelompok yang digerakkan oleh kepercayaan akan kedatangan hari kiamat pada tanggal, bulan dan tahun tertentu. Ramalan mereka memang terbukti tidak benar, tetapi kenyataan bahwa ada umat Katolik yang ikut di dalamnya, tentu menjadi refleksi tersendiri bagi kita. Barangkali kita kehilangan sikap percaya yang sekaligus kritis. Karena itu kita justru mudah menerima keyakinan-keyakinan religius yang nampaknya ‘benar’, tetapi sesungguhnya bertentangan dengan semangat dan isi iman kristiani.
Ketiga, “...akan terjadi peperangan, bencana alam, kelaparan dan penyakit.” Peristiwa seperti ini dengan mudah kita saksikan di televisi, juga dalam kenyataan hidup kita sendiri. Penderitaan manusia yang disebabkannya sungguh ganas dan memilukan. Semua itu terjadi hampir di luar kendali kita. Kita seolah tidak bisa berbuat apa-apa. Contoh terakhir badai topan Haiyan di Filipina yang menewaskan hampir dua ribuan jiwa. Mengalami kenyataan ini, orang mungkin akan bergelut dengan imannya sendiri: “Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi? , “Apa benar ada Tuhan? Kalau ada, masakan Dia hanya menonton umatNya mati sia-sia?”
Keempat, penderitaan karena nama Yesus. Seperti halnya para murid yang  “ditangkap”, “dianiaya”, “dihadapkan ke pengadilan” karena percaya kepada Yesus dan bersaksi tentang namaNya. Pengalaman ini nyata dalam hidup umat perdana. Mereka dikejar-kejar, diadili dan bahkan dibunuh karena keteguhan iman mereka. Iman kepada Yesus bahkan mengakibatkan setiap muridNya “dibenci” oleh keluarganya sendiri. Bukankah tidak ada kenyataan yang lebih membuat kita menderita selain bahwa kita tidak diterima oleh keluarga kita sendiri ?
Pertanyaan kita: untuk apa Yesus bicara soal aneka bentuk penderitaan ini? Tentu bukan untuk sekadar menakut-nakuti kita. Tetapi sebaliknya supaya kita memiliki keberanian iman dalam menghadapi apapun kesulitan dan tantangan karena mengikuti Yesus. Kenapa mesti berani? Sebab seperti yang terbukti dalam perjuangan iman para rasul, Yesus sendirilah yang menyanggupkan kita. Ia memberikan “kata-kata hikmat” untuk bersaksi, Ia memelihara sehingga “tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang”, dan di atas semuanya itu: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” Demikian yang akan terjadi pada kita yang percaya padaNya. Tuhan Yesus sendiri menjadi jaminan hidup bagi siapapun yang berani menderita karena iman kepadaNya.
Tetapi, apa benar kita sudah cukup menderita karena Yesus? Pertanyaan ini penting untuk kita gali. Sebab barangkali kita tidak mengalami bentuk penderitaan seperti yang disebutkan Yesus tadi. Atau beratnya penderitaan kita belum seberat yang dialami para rasul. Penderitaan yang dimaksud Yesus sesungguhnya adalah apapun situasi atau kondisi sulit yang kita alami karena memperjuangkan iman kita. Kita berani mengorbankan kepentingan bahkan keselamatan kita sendiri karena mau hidup seperti Yesus, karena mau menghayati nilai-nilai yang diajarkanNya. Seringkali karena tak tahan hidup susah, orang memilih cara hidup tidak jujur. Ada yang mau kaya dengan korupsi, mau berkuasa dengan sikut-menyikut, mau makan enak tanpa kerja keras, mau diwisuda dengan copy-paste, mau tenar dengan jual diri, mau kenikmatan sekalipun berselingkuh, dll. Jadi ada krisis luar biasa nilai-nilai kristiani karena orang mengejar keinginannya dengan lebih memakai “cara dunia” ketimbang “cara Yesus”. Dengan demikian kalau mau jujur, kita belum cukup berani menderita demi Yesus dan ajaranNya!
Buat Yesus, apa sih yang nggak? Kalau Yesus sudah jadi pilihan hati, maka apapun akan kita lakukan, sekalipun itu adalah penderitaan. Sebab siapa yang berani menderita karena Yesus, ia akan mengalami pertolonganNya. Yesus sendiri menegaskan bahwa kalau kita tetap bertahan dalam setiap kesulitan, kita akan memperoleh kehidupan. Percaya ini. Dan mari berani hidup dengan cara Yesus...
Salam Hangat,

Dkn Charles Leta, SMM



 


Jumat, 25 Oktober 2013

“KASIHANILAH AKU ORANG BERDOSA INI...”


Minggu Biasa 30
Bacaan Injil: Luk 18:9-14

            Metafora kain putih. Bila dilihat dari kejauhan, selembar kain putih akan selalu terlihat putih. Sekalipun kain putih itu memiliki bercak-bercak noda, toh tetap saja terlihat putih. Tetapi cobalah kita mendekatkan kain putih itu ke arah cahaya lampu. Seketika itu juga, akan jelas terlihat oleh mata kita, noda-nodanya. Bintik-bintik noda yang paling kecilpun dapat segera kita lihat. Demikianlah semakin kita mendekatkan diri pada Kristus Sang Cahaya Sejati, makin nyata kerapuhan dan kesalahan kita.
Yesus mengkritik orang yang “menganggap diri benar dan memandang rendah semua orang lain.” Kiranya mereka ini adalah orang-orang yang merasa diri tidak pernah bersalah dan karena itu dengan mudah menempatkan dirinya lebih tinggi di atas orang lain. Kepada mereka, kritik disampaikan Yesus melalui sebuah perumpamaan tentang dua orang yang “pergi berdoa ke bait Allah” dengan isi doa yang berbeda satu sama lain. Rupanya isi doa seseorang sangat menggambarkan seperti apa pribadinya. Dengan kata lain, “Kita adalah isi doa kita!” Orang seperti apakah kita dapat dikenali dari cara dan isi doa kita.
            Doa orang Farisi: contoh doa orang sombong. Mengapa demikian? Pertama, isi doanya mengarah pada diri sendiri. Orang Farisi ini memang menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan. Tetapi syukurnya itu berpusat pada dirinya sendiri. Ia bersyukur karena dirinya “tidak sama seperti orang lain yang melakukan kejahatan: perampok, pezinah, pemungut cukai.” Dengan membandingkan diri dengan orang lain, ia menempatkan dirinya lebih tinggi. Padahal doa syukur yang sejati terarah pada kebaikan Allah dan sesama. Kedua, dalam doanya, orang Farisi ini menonjolkan kebaikan-kebaikan yang ia buat: berpuasa dan berderma. Bukankah Tuhan tahu segala niat dan tindakan baik kita? Mengatakan semua itu dalam doa hanyalah sebuah upaya meninggikan diri di hadapan Tuhan. Apa pantas kita melakukan demikian dalam doa? Orang yang suka menghitung-hitung kebaikannya pasti menjadi tidak tulus dalam tindakan dan sombong dalam memandang sekitarnya.
            Doa Pemungut Cukai: contoh doa orang rendah hati. Berbeda dengan orang Farisi tadi, si Pemungut Cukai berdoa dengan sikap dan isi doa yang indah. Ia hanya “berdiri jauh-jauh” dari tempat doa dan bahkan “tidak berani menengadah ke langit.” Ia justru “memukul diri”, mungkin “menepuk dada” tanda penyesalan dan berdoa memohon ampun: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini...” Indah, bukan? Orang ini tahu dengan baik dengan siapa dia berbicara. Di hadapan Tuhan yang penuh Kuasa dan Kerahiman, ia menyadari kerapuhan dirinya dan dengan sungguh meminta pengampunan atas dosa-dosanya. Hal ini memang tidak akan pernah diminta oleh mereka yang merasa tidak pernah berdosa, bukan? Dari sikap dan isi doanya saja, kita sudah langsung tahu, orang ini rendah hati. Dan Yesus menegaskan: orang seperti inilah “yang dibenarkan Allah.”
            Tuhan memang meminta kita menjadi sempurna: “Haruslah kamu sempurna, sama seperti BapaMu di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48). Tetapi kesempurnaan hidup kristiani ini tidak kita kejar dengan mengabaikan apalagi merendahkan orang lain. Tuntutan menjadi orang saleh dan taat beragama itu jelas. Tetapi sebaiknya kita berjuang pula menjadi orang yang mampu menerima dan menghargai siapapun. Menerima mereka yang kita sisihkan karena dosa-kesalahan (masa lalu) mereka. Menghargai mereka yang kita abaikan karena rasa cuek dan antipatinya pada hidup menggereja. Peduli pada mereka-mereka ini jelas tidak mudah. Hanya orang yang telah mengalami pengampunan Tuhan saja yang sanggup melakukannya sebab mereka tahu baik, kasih Tuhan itu berharga bagi siapapun.
Semua orang berharga di mata Allah. Dosa dan kesalahan tidak pernah menutup rapat pintu belas kasih Allah. PadaNya masih selalu ada harapan selama orang menyesal dan memohon ampun. Tugas kita adalah menjadi duta belas kasih Allah ini. Jadilah pribadi berjiwa besar yang sanggup menerima, menghargai dan memaafkan. Semangat ini bisa dimiliki selama kita sendiri bersedia -membungkukkan badan- menepuk dada- dan dengan rendah hati berdoa-: “Ya Yesus, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Doakan ini setiap hari maka kita bukan hanya diampuni, tapi juga sanggup mengampuni!

Salam Hangat,

D. Charles Leta, SMM

 
                 
             
           
            

Sabtu, 19 Oktober 2013

Dengan Tidak Jemu-Jemu



Hari Minggu Biasa 29
Bacaan Injil: Luk 18:1-8

                Yesus mengajar kita supaya berdoa dengan tidak jemu-jemu. Berdoa tidak jemu-jemu berarti berdoa terus-menerus, ‘siang dan malam’. Tetapi mengapa Tuhan meminta kita demikian? Untuk apa berdoa terus-menerus? Satu-dua kali saja sudah cukup, bukan? Tidakkah Tuhan telah tahu isi hati kita? Kalau begitu untuk apa Yesus meminta kita berdoa tidak jemu-jemu?
Untuk menerangkan hal ini, Yesus memberikan sebuah cerita. Di sebuah kota, ada seorang hakim yang tidak takut kepada Tuhan dan tidak menghormati sesamanya. Rupanya hakim ini tidak kenal Tuhan dan cuek dengan orang lain. Dia berperilaku jahat dan tidak adil. Tetapi ada pula di kota itu, seorang janda yang sedang punya perkara dan memperjuangkan haknya kepada si hakim, tetapi tidak pernah didengarkan. Apa yang dilakukan janda itu? Janda ini tidak putus asa. Tanpa jemu-jemu, dia terus saja datang kepada si hakim untuk meminta keadilan. Nah, si hakim akhirnya jengkel pada janda yang terus datang kepadanya. Karena jengkel si hakimpun berpikir begini: “Ah, daripada janda itu selalu datang dan mengganggu saya, lebih baik saya memenangkan perkaranya saja!” Jadi hakim yang jahat itu akhirnya mengabulkan permintaan si janda, bukan karena dia berperilaku adil, tetapi semata-mata karena dia tidak mau terus-menerus didatangi oleh si janda!
            Nah, kalau hakim yang jahat saja sudah bisa bertindak seperti itu, apalagi Allah, Tuhan kita? Bukankah Allah adalah Bapa yang Maha Baik? Bukankah Dia akan mendengarkan semua umat yang datang berdoa kepadaNya, siang dan malam? Allah tidak akan pernah mengulur-ulur waktu untuk menolong umatNya, demikian kata Yesus sendiri. Dengan demikian, Yesus mengajak kita untuk memiliki keberanian hati, untuk seperti si janda itu, tidak pernah putus asa-tidak pernah berhenti untuk berdoa dan meminta, sekalipun kerapkali belum dikabulkan. Tetapi apakah kita punya iman seperti si janda itu, yang terus meminta walau dikecewakan? Kita dapat menilai sendiri cara bagaimana kita berdoa selama ini. Apakah kita berdoa dengan tekun? Atau hanya satu atau dua kali saja, terus berhenti? Apakah kita setia meminta satu hal saja berulang-ulang? Atau hanya sekali meminta, lalu kalau belum dikabulkan, kita kecewa, mundur dan berhenti meminta lagi?
            Tuhan Yesus sendiri menyatakan keraguannya akan iman kita: “Kalau Aku datang kepada manusia, apakah aku mendapati iman pada mereka?” Memang bertahan dalam iman itu menjadi susah ketika kita merasa Tuhan kok lambat sekali mendengarkan dan memenuhi permintaan kita. Susah sekali! Siapa yang tetap percaya pada Tuhan, ketika doa-doanya belum dikabulkan? “Coba tunjukkan pada saya Pastor bagaimana sih kebaikan Tuhan itu, sementara permintaan-permintaan saya belum juga dikabulkan!” Dengan begitu mudah, kita menjadi putus asa dan kehilangan iman, menjadi malas dan kehilangan semangat setiap kali kita merasa dikecewakan oleh Tuhan yang kita percayai.
            Tetapi apakah kekecewaan kita memang pada tempatnya? Jangan-jangan ada yang keliru dengan cara kita berdoa. Bisa jadi kita berdoa hanya pada ‘musim-musim’ tertentu saja. Berdoa tunggu kalau ada maunya. Bisa jadi kita berdoa dengan sikap ragu-ragu dan sombong. Tidak cukup yakin akan kemahakuasaan Tuhan tetapi juga terlampau yakin akan kepantasan diri di hadapan Tuhan. Jika demikian, marilah kita berdoa dengan penuh iman dan kerendahan hati. Berdoa dengan penuh iman membuat kita tidak pernah kehilangan harapan ketika doa kita belum terkabul. Berdoa dengan rendah hati membuat kita tidak pernah kehilangan rasa syukur. Sebab ketika doa kita belum terkabul, itulah yang terbaik bagi kita. Karena Tuhan paling tahu apa yang paling baik untuk kita. Dia tahu kapan saat terbaik untuk memberikannya kepada kita.
            Lebih dari itu, berdoa sejatinya adalah kesempatan berbicara pribadi dengan Tuhan. Karena itu, berdoa bisa terjadi kapan saja dan tentang apa saja. Bukan melulu soal minta-meminta. Di sana bisa ada syukur, pujian, tawa, keceriaan, keluhan, tangisan, gugatan, kemarahan, juga diam. Doa itu sharing atau curhat pribadi dengan Tuhan. Semuanya dilakukan dengan hati yang tulus, jujur dan apa adanya. Kalau berdoa kita hidupi sebagai demikian maka yang paling penting bagi kita bukan lagi pada apakah permintaan kita terpenuhi atau tidak. Sebab doa itu sendiri sudah membuat kita semakin bersatu-hati dengan Tuhan dan itulah yang paling perlu untuk hidup kita sendiri. Mari berdoa dengan ‘tidak tahu diri’, mari tenggelam dalam keluasan hati Allah.      

D. Charles Leta, SMM


Jumat, 30 Agustus 2013

Most Wanted: ‘Orang Gila!’

Hari Minggu Biasa 22
Bacaan Injil: Luk 14:1, 7-14


         Saudara-saudariku yang dikasihi Tuhan,
Salam jumpa kembali di media ini. Injil di minggu biasa 22 ini berbicara tentang Dua Nasihat Yesus. Nasihat pertama supaya kita tidak meninggikan diri dengan mencari kehormatan. Nasihat kedua supaya kita selalu melakukan kebaikan dengan tidak meminta pamrih. Apa artinya kedua nasihat ini untuk kita ?
          Jangan meninggikan diri! Nasihat pertama ini disampaikan Yesus melalui suatu perbandingan sederhana. Ketika itu, Yesus diundang makan oleh salah seorang pemimpin Kaum Farisi. Tapi ada satu hal menonjol yang dilihatNya: para tamu berlomba-lomba menduduki kursi-kursi terdepan, tempat-tempat kehormatan. Melihat itu, Yesus menyampaikan nasihat supaya kalau diundang ke suatu pesta, janganlah mencari tempat duduk di tempat kehormatan. Mengapa demikian? Sebab bisa jadi akan datang kemudian orang yang jauh lebih terhormat dan karena itu, kita yang tadinya sudah duduk di sana bisa disuruh pindah ke tempat belakang. Dengan demikian kita justru akan dipermalukan karena meninggikan diri. Apa maksud Yesus dengan nasihat ini? “… Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditiinggikan.” Demikian Yesus menegaskan lebih pentingnya merendahkan diri. Sebab sikap meninggikan diri dengan mencari kehormatan dan merasa diri lebih hebat dari yang lain itu berbahaya! Orang bisa menjadi sombong, memandang remeh sesamanya bahkan kehilangan rasa takut kepada Tuhan. Sebaliknya orang yang rendah hati mudah dikasihi sesama, mudah pula didekati Tuhan.
            Apa yang membuat kita terhormat? Semua orang ingin dihormati. Menjadi orang terhormat adalah keinginan tiap manusia. Namun ada beragam cara menjadi terhormat. Salah satunya melalui pergaulan. Barangkali kita kerap menganggap diri terhormat hanya karena orang dengan siapa kita bergaul. Pergaulan dengan tokoh terkenal, orang berkuasa, kaya dan terpandang tak jarang jadi ukuran ‘gengsi’ kita. Duduk makan atau bepergian dengan mereka serasa menjadikan kita terpandang. Tetapi hidup Yesus mengajarkan lain. Kehormatan kita terletak pada kesediaan untuk merendahkan diri, menjadi pelayan bagi mereka yang membutuhkan. Kita terhormat kalau kita bergaul dan melayani mereka yang disepelekan dan disisihkan. Injil sendiri lebih banyak berkata bahwa: “…Yesus adalah sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Luk 7:34).
            Jangan berbuat baik demi pamrih! Ini nasihat kedua Yesus. Yesus menyampaikannya dalam sebuah gambaran perjamuan. Kalau kita menjadi tuan rumah, janganlah mengundang hanya sahabat, saudara, keluarga, atau tetangga. Tetapi undanglah orang miskin, cacat, lumpuh dan buta. Mengapa? Sebab kelompok orang terakhir ini adalah mereka yang tidak berkemampuan untuk membalas perbuatan baik kita. Mereka ini tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan kita dan karena itu, kita dibantu untuk menjadi lebih tulus dalam memberi.
            Dengan siapa saja kita bergaul? Yesus tidak melarang kita bergaul dengan siapa saja. Yesus hanya ingin memutus rantai pergaulan yang kerapkali didasarkan bukan pada ketulusan. Bergaul karena punya kepentingan saja. Memberi demi pujian, kehormatan, ketenaran atau sekadar supaya dianggap baik. Bermanis bibir dan muka demi mendapat imbalan atau penerimaan. Dalam hal ini, pergaulan dengan orang-orang sederhana, baik yang kita kenal atau tidak, akan mendidik kita dalam hal ketulusan ini. Kita menerima mereka apa-adanya, memberi diri dengan jujur dan sepenuh hati. Tiada motivasi mencari imbalan, tanpa rasa curiga, tanpa pura-pura. Seperti Tuhan Yesus yang membiarkan semua orang dekat padaNya, sekalipun sebagian besar mereka hanya datang untuk ‘meminta dan meminta’. Sama seperti matahari menghangatkan bumi tanpa menuntut apa-apa, demikian kasih Yesus tulus dan menjangkau kita semua.
            Most Wanted: “Orang Gila!” Barangkali sudah saatnya menjadi ‘orang gila!’. Orang yang tergila-gila pada Yesus dan bersedia disebut gila oleh dunia karena mengikuti Yesus dengan gila! Kalau orang yang mencari kehormatan dan kekuasaan disebut waras, maka kita - sekalipun harus disebut gila – mengusahakan kerendahan hati dan pelayanan. Kalau dunia menganggap kerendahan hati dan pelayanan sebagai kegilaan di masa kini, maka kita – karena Yesus – menganggapnya sebagai kewarasan kita. Berani gila??!! Salam.

Fr. Charles Leta, SMM   


   



Sabtu, 20 Juli 2013

SATU SAJA YANG PERLU

Hari Minggu Biasa 16
Bacaan Injil: Luk 10:38-42



            Marta dan Maria. Mereka dua orang bersaudara. Rumah mereka dikunjungi Yesus. Yesus dan murid-muridNya rupanya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Di tengah jalan mereka mampir di rumah Marta dan Maria. Dan Marta “menerima Yesus dalam rumahnya.” Marta seorang tuan rumah yang baik.
            “Maria duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya.” Demikian yang dikatakan Injil tentang sikap Maria. Sementara Marta sibuk melayani tamu-tamunya, Maria malah memilih duduk dekat Yesus dan mendengarkanNya. Rupanya Yesus tidak hanya bertamu, tetapi Dia juga mengajar. Tidak dikatakan kepada kita apa isi pengajaran Yesus. Yang penting untuk kita ketahui adalah pilihan sikap Maria. Maria memilih duduk dan mendengarkan perkataan Yesus.
            “Marta sibuk sekali melayani.” Berbeda dengan sikap Maria, Marta memilih untuk menyiapkan mungkin ‘teh dan gorengan’ untuk disajikan kepada Yesus dan murid-muridNya. Sebagai tuan rumah, Marta merasa penting untuk menyuguhkan yang terbaik. Apalagi dalam tradisi Yahudi, tugas seorang perempuan memang berada di dapur, memasak dan melayani meja. Itu yang paling penting. Makanya Marta gusar sekali melihat kelakuan Maria yang tidak menjalankan tugasnya sebagaimana seorang perempuan Yahudi.
            Marta protes! “Tuhan tidakkah engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Menarik bahwa Marta tidak menyampaikan protesnya ini langsung kepada Maria. Tetapi Marta malah protes kepada Yesus karena Yesus sama sekali tidak terganggu dengan sikap Maria, saudarinya itu. Karena tidak setuju dengan sikap Maria, Marta meminta bantuan Yesus untuk menegur Maria. Mengapa? Karena sebagai lelaki Yahudi, Yesus tentu tahu juga bahwa ‘tempat’ dan ‘peran’ Maria seharusnya di belakang dapur. Mempersiapkan dan melayani meja sama seperti Marta.
            “…Engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal.” Demikian Yesus justru menegur balik Marta. Yesus menegur dengan penuh kehangatan karena Marta sibuk dengan terlalu banyak hal. Marta terlalu kuatir akan apa yang layak disuguhkan kepada Yesus. Tetapi kenapa sikap Marta ini ditegur? Bukankah tepat kalau Marta berusaha menjadi tuan rumah yang baik? Benar, memang tidak ada yang salah dengan sikap Marta sebagai tuan rumah. Melayani tamu sudah seharusnya. Tetapi sikap demikian tidaklah tepat kalau Yesus adalah tamunya. Marta tidak tahu mana sikap yang paling tepat bila berhadapan dengan Yesus. Jadi Yesus bukan mengkritik pelayanan Marta, melainkan cara pikir Marta bahwa Yesus sama seperti tamu-tamu lainnya, harus disuguhkan banyak hal yang justru terlalu merepotkannya.
            “Satu saja yang perlu”: duduk di kaki Yesus dan mendengarkan Dia! Inilah sikap yang tepat bila berhadapan dengan Yesus. Sikap yang telah dipilih Maria sebagai “bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Maria menangkap maksud kedatangan Yesus ke rumah mereka bukan sebagai kunjungan biasa. Yesus datang untuk mengundang seisi rumah untuk mendengarkan pengajaranNya. Karena itu, Maria sadar inilah kesempatan untuk menjadi murid Yesus. Sebagai murid hal yang paling perlu bukan pertama-tama melayani gurunya, tetapi terutama adalah mendengarkan kata-kataNya. Kata-kata Yesus Sang Guru ini akan selalu diingat Maria seumur hidup. Orang tidak akan bisa mengambil darinya. Betapa bahagia Maria, bukan? Sebab ia telah mendengarkan dan menyimpan kata-kata Sang Guru.
            Setiap murid sejati mendengarkan kata-kata Gurunya. Kita sekalian adalah murid Yesus. Yesus adalah Guru kita. Maka sikap yang paling perlu dan tepat adalah mendengarkan kata-kata Yesus. Bukan yang lain. Mari bertanya diri: apakah kita benar-benar sudah menjadi murid Yesus yang baik? Seberapa sering kita sediakan waktu untuk mendengarkan Yesus berbicara? Kalau setiap hari kita bisa setengah jam atau bahkan berjam-jam mengecek handphone, mengupdate status dan chat misalnya, masakan kita tak punya waktu untuk duduk diam di kamar, membuka Kitab Suci dan membacanya? Ataukah kita menunggu sampai hari Minggu dulu untuk mendengarkan Sabda Tuhan yang dibacakan di gereja? Itupun kalau kita mau serius mendengarkan, bukan? Tapi sayang bahwa Kitab Suci kita cuma buat dipajang di ruang tamu atau kamar. Kita terlalu sibuk untuk mendengarkan Yesus. Tapi mari jujur pada diri sendiri: apa benar kita terlalu sibuk?
            Marilah ‘duduk di kaki Yesus’. Duduk berduaan denganNya. Kalau kita sadar bahwa kita adalah murid Yesus, maka itulah sikap yang selalu kita pilih. Kalau kita tidak pernah memberikan kesempatan Yesus ‘berbicara’, maka kita tak ‘kan pernah merasa dibimbing olehNya. Bagaimana kita bisa berjalan dalam kegelapan kalau tidak dengan pelita di tangan kita? Kata-kata Yesus adalah pelita bagi langkah hidup kita. Jangan percaya dulu, tapi mulai lakukan saja. Masuk ke kamar, non-aktifkan handphone, duduk dan berdolah, buka dan bacalah Kitab Suci. Karena Tuhan Yesus selalu rindu berbicara kepada kita muridNya. 

Fr. Charles Leta, SMM