Sabtu, 19 Oktober 2013

Dengan Tidak Jemu-Jemu



Hari Minggu Biasa 29
Bacaan Injil: Luk 18:1-8

                Yesus mengajar kita supaya berdoa dengan tidak jemu-jemu. Berdoa tidak jemu-jemu berarti berdoa terus-menerus, ‘siang dan malam’. Tetapi mengapa Tuhan meminta kita demikian? Untuk apa berdoa terus-menerus? Satu-dua kali saja sudah cukup, bukan? Tidakkah Tuhan telah tahu isi hati kita? Kalau begitu untuk apa Yesus meminta kita berdoa tidak jemu-jemu?
Untuk menerangkan hal ini, Yesus memberikan sebuah cerita. Di sebuah kota, ada seorang hakim yang tidak takut kepada Tuhan dan tidak menghormati sesamanya. Rupanya hakim ini tidak kenal Tuhan dan cuek dengan orang lain. Dia berperilaku jahat dan tidak adil. Tetapi ada pula di kota itu, seorang janda yang sedang punya perkara dan memperjuangkan haknya kepada si hakim, tetapi tidak pernah didengarkan. Apa yang dilakukan janda itu? Janda ini tidak putus asa. Tanpa jemu-jemu, dia terus saja datang kepada si hakim untuk meminta keadilan. Nah, si hakim akhirnya jengkel pada janda yang terus datang kepadanya. Karena jengkel si hakimpun berpikir begini: “Ah, daripada janda itu selalu datang dan mengganggu saya, lebih baik saya memenangkan perkaranya saja!” Jadi hakim yang jahat itu akhirnya mengabulkan permintaan si janda, bukan karena dia berperilaku adil, tetapi semata-mata karena dia tidak mau terus-menerus didatangi oleh si janda!
            Nah, kalau hakim yang jahat saja sudah bisa bertindak seperti itu, apalagi Allah, Tuhan kita? Bukankah Allah adalah Bapa yang Maha Baik? Bukankah Dia akan mendengarkan semua umat yang datang berdoa kepadaNya, siang dan malam? Allah tidak akan pernah mengulur-ulur waktu untuk menolong umatNya, demikian kata Yesus sendiri. Dengan demikian, Yesus mengajak kita untuk memiliki keberanian hati, untuk seperti si janda itu, tidak pernah putus asa-tidak pernah berhenti untuk berdoa dan meminta, sekalipun kerapkali belum dikabulkan. Tetapi apakah kita punya iman seperti si janda itu, yang terus meminta walau dikecewakan? Kita dapat menilai sendiri cara bagaimana kita berdoa selama ini. Apakah kita berdoa dengan tekun? Atau hanya satu atau dua kali saja, terus berhenti? Apakah kita setia meminta satu hal saja berulang-ulang? Atau hanya sekali meminta, lalu kalau belum dikabulkan, kita kecewa, mundur dan berhenti meminta lagi?
            Tuhan Yesus sendiri menyatakan keraguannya akan iman kita: “Kalau Aku datang kepada manusia, apakah aku mendapati iman pada mereka?” Memang bertahan dalam iman itu menjadi susah ketika kita merasa Tuhan kok lambat sekali mendengarkan dan memenuhi permintaan kita. Susah sekali! Siapa yang tetap percaya pada Tuhan, ketika doa-doanya belum dikabulkan? “Coba tunjukkan pada saya Pastor bagaimana sih kebaikan Tuhan itu, sementara permintaan-permintaan saya belum juga dikabulkan!” Dengan begitu mudah, kita menjadi putus asa dan kehilangan iman, menjadi malas dan kehilangan semangat setiap kali kita merasa dikecewakan oleh Tuhan yang kita percayai.
            Tetapi apakah kekecewaan kita memang pada tempatnya? Jangan-jangan ada yang keliru dengan cara kita berdoa. Bisa jadi kita berdoa hanya pada ‘musim-musim’ tertentu saja. Berdoa tunggu kalau ada maunya. Bisa jadi kita berdoa dengan sikap ragu-ragu dan sombong. Tidak cukup yakin akan kemahakuasaan Tuhan tetapi juga terlampau yakin akan kepantasan diri di hadapan Tuhan. Jika demikian, marilah kita berdoa dengan penuh iman dan kerendahan hati. Berdoa dengan penuh iman membuat kita tidak pernah kehilangan harapan ketika doa kita belum terkabul. Berdoa dengan rendah hati membuat kita tidak pernah kehilangan rasa syukur. Sebab ketika doa kita belum terkabul, itulah yang terbaik bagi kita. Karena Tuhan paling tahu apa yang paling baik untuk kita. Dia tahu kapan saat terbaik untuk memberikannya kepada kita.
            Lebih dari itu, berdoa sejatinya adalah kesempatan berbicara pribadi dengan Tuhan. Karena itu, berdoa bisa terjadi kapan saja dan tentang apa saja. Bukan melulu soal minta-meminta. Di sana bisa ada syukur, pujian, tawa, keceriaan, keluhan, tangisan, gugatan, kemarahan, juga diam. Doa itu sharing atau curhat pribadi dengan Tuhan. Semuanya dilakukan dengan hati yang tulus, jujur dan apa adanya. Kalau berdoa kita hidupi sebagai demikian maka yang paling penting bagi kita bukan lagi pada apakah permintaan kita terpenuhi atau tidak. Sebab doa itu sendiri sudah membuat kita semakin bersatu-hati dengan Tuhan dan itulah yang paling perlu untuk hidup kita sendiri. Mari berdoa dengan ‘tidak tahu diri’, mari tenggelam dalam keluasan hati Allah.      

D. Charles Leta, SMM


Jumat, 30 Agustus 2013

Most Wanted: ‘Orang Gila!’

Hari Minggu Biasa 22
Bacaan Injil: Luk 14:1, 7-14


         Saudara-saudariku yang dikasihi Tuhan,
Salam jumpa kembali di media ini. Injil di minggu biasa 22 ini berbicara tentang Dua Nasihat Yesus. Nasihat pertama supaya kita tidak meninggikan diri dengan mencari kehormatan. Nasihat kedua supaya kita selalu melakukan kebaikan dengan tidak meminta pamrih. Apa artinya kedua nasihat ini untuk kita ?
          Jangan meninggikan diri! Nasihat pertama ini disampaikan Yesus melalui suatu perbandingan sederhana. Ketika itu, Yesus diundang makan oleh salah seorang pemimpin Kaum Farisi. Tapi ada satu hal menonjol yang dilihatNya: para tamu berlomba-lomba menduduki kursi-kursi terdepan, tempat-tempat kehormatan. Melihat itu, Yesus menyampaikan nasihat supaya kalau diundang ke suatu pesta, janganlah mencari tempat duduk di tempat kehormatan. Mengapa demikian? Sebab bisa jadi akan datang kemudian orang yang jauh lebih terhormat dan karena itu, kita yang tadinya sudah duduk di sana bisa disuruh pindah ke tempat belakang. Dengan demikian kita justru akan dipermalukan karena meninggikan diri. Apa maksud Yesus dengan nasihat ini? “… Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditiinggikan.” Demikian Yesus menegaskan lebih pentingnya merendahkan diri. Sebab sikap meninggikan diri dengan mencari kehormatan dan merasa diri lebih hebat dari yang lain itu berbahaya! Orang bisa menjadi sombong, memandang remeh sesamanya bahkan kehilangan rasa takut kepada Tuhan. Sebaliknya orang yang rendah hati mudah dikasihi sesama, mudah pula didekati Tuhan.
            Apa yang membuat kita terhormat? Semua orang ingin dihormati. Menjadi orang terhormat adalah keinginan tiap manusia. Namun ada beragam cara menjadi terhormat. Salah satunya melalui pergaulan. Barangkali kita kerap menganggap diri terhormat hanya karena orang dengan siapa kita bergaul. Pergaulan dengan tokoh terkenal, orang berkuasa, kaya dan terpandang tak jarang jadi ukuran ‘gengsi’ kita. Duduk makan atau bepergian dengan mereka serasa menjadikan kita terpandang. Tetapi hidup Yesus mengajarkan lain. Kehormatan kita terletak pada kesediaan untuk merendahkan diri, menjadi pelayan bagi mereka yang membutuhkan. Kita terhormat kalau kita bergaul dan melayani mereka yang disepelekan dan disisihkan. Injil sendiri lebih banyak berkata bahwa: “…Yesus adalah sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Luk 7:34).
            Jangan berbuat baik demi pamrih! Ini nasihat kedua Yesus. Yesus menyampaikannya dalam sebuah gambaran perjamuan. Kalau kita menjadi tuan rumah, janganlah mengundang hanya sahabat, saudara, keluarga, atau tetangga. Tetapi undanglah orang miskin, cacat, lumpuh dan buta. Mengapa? Sebab kelompok orang terakhir ini adalah mereka yang tidak berkemampuan untuk membalas perbuatan baik kita. Mereka ini tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan kita dan karena itu, kita dibantu untuk menjadi lebih tulus dalam memberi.
            Dengan siapa saja kita bergaul? Yesus tidak melarang kita bergaul dengan siapa saja. Yesus hanya ingin memutus rantai pergaulan yang kerapkali didasarkan bukan pada ketulusan. Bergaul karena punya kepentingan saja. Memberi demi pujian, kehormatan, ketenaran atau sekadar supaya dianggap baik. Bermanis bibir dan muka demi mendapat imbalan atau penerimaan. Dalam hal ini, pergaulan dengan orang-orang sederhana, baik yang kita kenal atau tidak, akan mendidik kita dalam hal ketulusan ini. Kita menerima mereka apa-adanya, memberi diri dengan jujur dan sepenuh hati. Tiada motivasi mencari imbalan, tanpa rasa curiga, tanpa pura-pura. Seperti Tuhan Yesus yang membiarkan semua orang dekat padaNya, sekalipun sebagian besar mereka hanya datang untuk ‘meminta dan meminta’. Sama seperti matahari menghangatkan bumi tanpa menuntut apa-apa, demikian kasih Yesus tulus dan menjangkau kita semua.
            Most Wanted: “Orang Gila!” Barangkali sudah saatnya menjadi ‘orang gila!’. Orang yang tergila-gila pada Yesus dan bersedia disebut gila oleh dunia karena mengikuti Yesus dengan gila! Kalau orang yang mencari kehormatan dan kekuasaan disebut waras, maka kita - sekalipun harus disebut gila – mengusahakan kerendahan hati dan pelayanan. Kalau dunia menganggap kerendahan hati dan pelayanan sebagai kegilaan di masa kini, maka kita – karena Yesus – menganggapnya sebagai kewarasan kita. Berani gila??!! Salam.

Fr. Charles Leta, SMM   


   



Sabtu, 20 Juli 2013

SATU SAJA YANG PERLU

Hari Minggu Biasa 16
Bacaan Injil: Luk 10:38-42



            Marta dan Maria. Mereka dua orang bersaudara. Rumah mereka dikunjungi Yesus. Yesus dan murid-muridNya rupanya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Di tengah jalan mereka mampir di rumah Marta dan Maria. Dan Marta “menerima Yesus dalam rumahnya.” Marta seorang tuan rumah yang baik.
            “Maria duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya.” Demikian yang dikatakan Injil tentang sikap Maria. Sementara Marta sibuk melayani tamu-tamunya, Maria malah memilih duduk dekat Yesus dan mendengarkanNya. Rupanya Yesus tidak hanya bertamu, tetapi Dia juga mengajar. Tidak dikatakan kepada kita apa isi pengajaran Yesus. Yang penting untuk kita ketahui adalah pilihan sikap Maria. Maria memilih duduk dan mendengarkan perkataan Yesus.
            “Marta sibuk sekali melayani.” Berbeda dengan sikap Maria, Marta memilih untuk menyiapkan mungkin ‘teh dan gorengan’ untuk disajikan kepada Yesus dan murid-muridNya. Sebagai tuan rumah, Marta merasa penting untuk menyuguhkan yang terbaik. Apalagi dalam tradisi Yahudi, tugas seorang perempuan memang berada di dapur, memasak dan melayani meja. Itu yang paling penting. Makanya Marta gusar sekali melihat kelakuan Maria yang tidak menjalankan tugasnya sebagaimana seorang perempuan Yahudi.
            Marta protes! “Tuhan tidakkah engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Menarik bahwa Marta tidak menyampaikan protesnya ini langsung kepada Maria. Tetapi Marta malah protes kepada Yesus karena Yesus sama sekali tidak terganggu dengan sikap Maria, saudarinya itu. Karena tidak setuju dengan sikap Maria, Marta meminta bantuan Yesus untuk menegur Maria. Mengapa? Karena sebagai lelaki Yahudi, Yesus tentu tahu juga bahwa ‘tempat’ dan ‘peran’ Maria seharusnya di belakang dapur. Mempersiapkan dan melayani meja sama seperti Marta.
            “…Engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal.” Demikian Yesus justru menegur balik Marta. Yesus menegur dengan penuh kehangatan karena Marta sibuk dengan terlalu banyak hal. Marta terlalu kuatir akan apa yang layak disuguhkan kepada Yesus. Tetapi kenapa sikap Marta ini ditegur? Bukankah tepat kalau Marta berusaha menjadi tuan rumah yang baik? Benar, memang tidak ada yang salah dengan sikap Marta sebagai tuan rumah. Melayani tamu sudah seharusnya. Tetapi sikap demikian tidaklah tepat kalau Yesus adalah tamunya. Marta tidak tahu mana sikap yang paling tepat bila berhadapan dengan Yesus. Jadi Yesus bukan mengkritik pelayanan Marta, melainkan cara pikir Marta bahwa Yesus sama seperti tamu-tamu lainnya, harus disuguhkan banyak hal yang justru terlalu merepotkannya.
            “Satu saja yang perlu”: duduk di kaki Yesus dan mendengarkan Dia! Inilah sikap yang tepat bila berhadapan dengan Yesus. Sikap yang telah dipilih Maria sebagai “bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Maria menangkap maksud kedatangan Yesus ke rumah mereka bukan sebagai kunjungan biasa. Yesus datang untuk mengundang seisi rumah untuk mendengarkan pengajaranNya. Karena itu, Maria sadar inilah kesempatan untuk menjadi murid Yesus. Sebagai murid hal yang paling perlu bukan pertama-tama melayani gurunya, tetapi terutama adalah mendengarkan kata-kataNya. Kata-kata Yesus Sang Guru ini akan selalu diingat Maria seumur hidup. Orang tidak akan bisa mengambil darinya. Betapa bahagia Maria, bukan? Sebab ia telah mendengarkan dan menyimpan kata-kata Sang Guru.
            Setiap murid sejati mendengarkan kata-kata Gurunya. Kita sekalian adalah murid Yesus. Yesus adalah Guru kita. Maka sikap yang paling perlu dan tepat adalah mendengarkan kata-kata Yesus. Bukan yang lain. Mari bertanya diri: apakah kita benar-benar sudah menjadi murid Yesus yang baik? Seberapa sering kita sediakan waktu untuk mendengarkan Yesus berbicara? Kalau setiap hari kita bisa setengah jam atau bahkan berjam-jam mengecek handphone, mengupdate status dan chat misalnya, masakan kita tak punya waktu untuk duduk diam di kamar, membuka Kitab Suci dan membacanya? Ataukah kita menunggu sampai hari Minggu dulu untuk mendengarkan Sabda Tuhan yang dibacakan di gereja? Itupun kalau kita mau serius mendengarkan, bukan? Tapi sayang bahwa Kitab Suci kita cuma buat dipajang di ruang tamu atau kamar. Kita terlalu sibuk untuk mendengarkan Yesus. Tapi mari jujur pada diri sendiri: apa benar kita terlalu sibuk?
            Marilah ‘duduk di kaki Yesus’. Duduk berduaan denganNya. Kalau kita sadar bahwa kita adalah murid Yesus, maka itulah sikap yang selalu kita pilih. Kalau kita tidak pernah memberikan kesempatan Yesus ‘berbicara’, maka kita tak ‘kan pernah merasa dibimbing olehNya. Bagaimana kita bisa berjalan dalam kegelapan kalau tidak dengan pelita di tangan kita? Kata-kata Yesus adalah pelita bagi langkah hidup kita. Jangan percaya dulu, tapi mulai lakukan saja. Masuk ke kamar, non-aktifkan handphone, duduk dan berdolah, buka dan bacalah Kitab Suci. Karena Tuhan Yesus selalu rindu berbicara kepada kita muridNya. 

Fr. Charles Leta, SMM  

         
             
                       


Sabtu, 13 Juli 2013

BELAS KASIH TAK KENAL BATAS

Hari Minggu Biasa 15
Bacaan Injil: Luk 10:25-37


            “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”, demikian pertanyaan seorang ahli Taurat kepada Yesus. Yesus tidak langsung menjawab, tetapi malah balik bertanya. Karena Yesus tahu Dia sedang berhadapan dengan seorang pakar Kitab Suci. Yesus bertanya begini: “Apa yang tertulis dalam Hukum Taurat?” Ternyata ahli Taurat ini tahu baik jawabannya. Supaya hidup kekal orang harus mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi. Juga orang harus mengasihi sesamanya seperti mengasihi dirinya sendiri. Yesus menegaskan bahwa kalau dia melaksanakannya dia akan hidup. Orang yang mengasihi pasti beroleh keselamatan. Tidak bisa tidak. Itu kata Yesus.
“Siapakah sesamaku manusia?”, demikian pertanyaan yang diajukan lagi oleh ahli Taurat kepada Yesus. Dia rupanya belum puas dengan tanggapan Yesus tadi. Dia justru mau membenarkan dirinya sebab Yesus tahu kalau ahli Taurat ini hanya tahu isi Taurat, tapi tidak melaksanakannya. Itulah sebabnya dia pura-pura tidak tahu dan bertanya siapa yang dimasudkan sebagai sesamanya.
Orang Samaria yang berbelas kasih. Inilah cerita yang digunakan Yesus untuk menjawab pertanyaan ahli Taurat itu. Cerita ini sudah sangat kita kenal, bukan? Ada seorang Yahudi yang mengalami kemalangan. Dalam perjalanan pulang dari Yerusalem ke Yerikho, dia dirampok, dipukuli dan ditinggalkan begitu saja, hampir mati di jalan. Dua orang pertama yang lewat di situ, seorang Rohaniwan dan seorang Lewi memang melihat orang malang itu. Tapi mereka melewatinya begitu saja. Mereka melihat tetapi tidak melakukan apa-apa. Tetapi seorang Samaria yang datang kemudian, dia melihat lalu dengan segera menolong orang malang itu. Dia bukan saja mengobatinya, tetapi membawanya ke ‘rumah sakit’ untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Bahkan dia sendiri yang kemudian membayar biaya ‘rumah sakit’.
Belas kasih tak kenal batas. Inilah yang membuat kita kagum pada si orang Samaria. Betapa tidak? Orang Samaria ini menolong seorang Yahudi. Sementara orang Yahudi berpandangan bahwa orang Samaria ‘kelas dua’. Mereka tidak berdarah Israel murni karena merupakan hasil pernikahan dengan orang non-Yahudi. Selain itu, ibadah orang Samaria pun dianggap bidaah oleh orang Yahudi. Tetapi ternyata itu bukan penghalang bagi orang Samaria untuk menolong si Yahudi. Yang penting baginya adalah semata-mata keselamatan hidup orang itu. Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih berpikir dua kali untuk mengunjungi tetangga yang sakit hanya karena dia beragama lain? Atau merawat teman kost yang berbeda asal? Kita punya belas kasih. Tapi mungkin kita takut ambil risiko dianggap ‘mencampuri urusan orang’ atau ‘sok repot’. Benar kata St. Montfort: “Jika kita tidak berani mengambil risiko, kita tidak akan pernah melakukan sesuatu yang berarti untuk Tuhan!”
Belas kasih itu tak tahu waktu. Tidak menunda. Inilah yang kita temukan dari cerita tadi. Setelah melihat ada yang terluka, orang Samaria itu tidak lagi pikir panjang. Dia segera bertindak untuk menolong. Nilai kehidupan memang harus menjadi prioritas kita. Apapun situasinya, kehidupan mestinya diutamakan. Bahkan di atas kepentingan dan urusan pribadi. Mungkin selama ini kita terlalu sering menunggu. Atau mungkin kelewat sibuk sehingga kita sepertinya tak punya cukup waktu, bahkan untuk sekadar menanyakan kabar orang-orang dekat kita. Apalagi bila harus menolong orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal, bukan?
Sesamaku adalah siapapun. Menjadi jelas bagi ahli Taurat dan tentu kita jawaban Yesus terhadap pertanyaan “siapakah sesamaku manusia?”, yakni siapapun yang malang dan membutuhkan pertolongan. Tak peduli apa agama dan daerah asalnya, kaya atau miskin, kawan atau lawan, kenal atau tak kenal. Kapanpun kita temui mereka yang membutuhkan pertolongan, di jalan atau di pasar, lakukan sesuatu dengan segera untuk keselamatannya.  
“Pergilah dan perbuatlah demikian!”, ini pesan Yesus kepada si ahli Taurat. Pesan ini jelas. Belas kasih harus merupakan tindakan konkret, bukan aturan, bukan pikiran, bukan omongan. Belas kasih itu segera, spontan dan tulus. Karena itu mengutip perkataan Paus Benediktus XVI dalam Deus Caritas Est: “ … selama masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang…”, sebab dengan begitu kita boleh memperoleh jaminan hidup kekal dalam Tuhan.
 Fr. Charles Leta, SMM


                       

                

Jumat, 28 Juni 2013

IKUT YESUS: SIAP DIUBAH


Hari Minggu Biasa 13
Bacaan Injil: Luk 9:51-62

           
Seorang Bapak sedang merasa susah. Ia hanya duduk bengong di meja kerjanya. Hatinya sedang sedih sekali. Kenapa teman-teman kantornya malah menjauhinya? Apa sih yang salah? Iatoh hanya mau mengikuti ajaran Yesus, bekerja dengan jujur. Ia tidak mau ikut-ikutan korupsi seperti teman-temannya itu.  
Pengalaman Bapak ini hanya salah satu contoh tantangan yang kita hadapi kalau kita mau serius mengikuti Yesus. Kalau kita mau hidup sesuai pikiran dan sikap Yesus sendiri. Mengikuti Yesus dengan setia memang penuh tantangan. Kita bisa saja dibenci dan ditolak oleh sesama kita. Kerapkali kita takut kalau-kalau kita hanya akan hidup susah saja. Kalau sudah begitu apakah kita memilih mundur? Atau apa yang sebaiknya kita lakukan? Tetap mengikuti Yesus meskipun banyak tantangan.
Mengikuti Yesus berarti menempuh suatu perjalanan. Perjalanan ke mana dan seperti apa? Perjalanan yang penuh tantangan. Perjalanan seperti ini tidak lain adalah perjalanan mengikuti Yesus. Dan perjalanan Yesus memang tidak pernah mudah. Inilah yang ditegaskan Yesus kepada orang yang mau mengikutiNya. Yesus dan para muridNya rupanya sedang melanjutkan perjalanan dari Samaria menuju desa lain. Di tengah jalan, seseorang datang kepada Yesus dan meminta supaya ia diperbolehkan mengikuti Yesus, ke manapun Yesus pergi. Orang ini pasti begitu terpikat pada Yesus sampai-sampai ia bersedia mengikuti Yesus, meskipun dia sendiri belum tahu tujuan perjalanan Yesus. Pokoknya orang ini siap mengikuti Yesus ke manapun Yesus pergi. Lalu bagaimana tanggapan Yesus atas kesiapsediaan yang luar biasa dari orang itu? Yesus memandang orang itu dan mengingatkan bahwa perjalanan mengikutiNya bukan perjalanan yang mudah, melainkan menantang. Mengapa menantang? Karena orang harus siap sedia mengalami situasi buruk apapun di dalam perjalanan. Yesus sendiri bahkan tidak punya tempat untuk berteduh. Kalau serigala punya liang dan burung punya sarang, Yesus justru tidak punya rumah untuk beristirahat. Apakah ini berarti mengikuti Yesus sama dengan menjadi gelandangan yang bisa tidur di emperan toko atau di kolong jembatan? Tentu tidak. Sebab perjalanan mengikuti Yesus memiliki tujuan. Apa tujuan itu? Yerusalem. Ya, Yesus sendiri telah menegaskan bahwa perjalananNya adalah menuju Yerusalem. Yerusalem menjadi puncak pemberian diri Yesus kepada BapaNya. Dia menderita sengsara, disalibkan, wafat dan bangkit karena taat kepada kehendak BapaNya. Apakah kita berani menempuh perjalanan yang tidak mudah ini sampai tujuan? Bersediakah kita hidup tanpa rasa aman yang kita peroleh misalnya dari pekerjaan kita? Sebab mengikuti Yesus bukan hanya harus siap mengalami tantangan dan kesulitan. Lebih dari itu, kita mesti siap diubah oleh pikiran dan tindakan Yesus sendiri. Kita tidak lagi merasa bahagia hanya kalau pekerjaan kita mendatangkan banyak uang. Kebahagiaan kita adalah hidup sesuai cara hidup Yesus. Karena itu berapapun penghasilannya, bagi kita yang penting adalah bekerja dengan cara-cara yang jujur dan tidak curang. Sekalipun harus hidup pas-pasan, kita siap. Sebab mengikuti Yesus berarti siap menempuh jalan Yesus sendiri.
DARI SEBAB ITU,Yesus menuntut supaya kita berani mengutamakan Kerajaan Allah. Mengutamakan bagaimana? Dengan meletakkan Kerajaan Allah di atas ikatan keluarga dan kewajiban terhadapnya. Sebab Kerajaan Allah lebih mendesak. Inilah yang ditegaskan Yesus kepada dua orang lainnya. Berbeda dengan orang pertama tadi, kedua orang ini diundang sendiri oleh Yesus untuk mengikuti Dia. Tetapi kedua orang ini tidak segera siap pergi bersama Yesus. Orang pertama meminta izin untuk pergi menguburkan bapaknya dahulu. Tentu ini merupakan suatu kewajiban mulia seorang anak kepada bapaknya. Tetapi apa tanggapan Yesus? Yesus sama sekali tidak memberi izin. Ia bahkan berkata: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati, tetapi engkau pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah !” Perkataan Yesus keras dan mengherankan kita, bukan? Tetapi kita lihat di sini, Yesus mengutamakan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah jauh lebih mendesak dari kewajiban keluarga yang mulia sekalipun. Demikian pula tanggapan Yesus terhadap orang kedua. Ketika Yesus mengundangnya, orang ini juga meminta izin. Ia izin untuk berpamitan dahulu dengan keluarganya. Lagi-lagi ini suatu sikap santun seperti dalam budaya kita, bukan? Tetapi Yesus menegaskan bahwa kalau begitu, orang ini belum siap menjadi muridNya. Sama halnya dengan orang yang mau membajak tapi masih menoleh ke belakang. Yesus meminta supaya setiap orang yang mau mengikutiNya harus siap berjalan ke depan, terarah kepada Kerajaan Allah. Begitu mendesaknya Kerajaan Allah sehingga tak satupun hal boleh menghalangi. Tidak juga ikatan kita dengan keluarga dan kewajiban-kewajiban kepada mereka.Tapi sungguh betapa susahnya melaksanakan hal ini. Barangkali kita menganggap Yesus terlalu berlebihan. Masakan pamit dengan keluarga saja tidak boleh? Mengikuti Yesus adalah masuk ke dalam suatu hidup baru. Kita mau menghayati cara hidup yang baru yakni cara hidup Yesus sendiri. Cara hidup Yesus banyak kali berbeda dengan pandangan dunia, pun pikiran kita sendiri. Karena itu, tuntutan Yesus seringkali terasa sulit bagi kita. Tetapi itulah tuntutan mengikuti Yesus. Kita mesti terbiasa merasa sakit karena harus melepaskan diri dari ikatan dengan hal-hal yang kita sukai, dengan orang-orang yang kita sayangi demi Kerajaan Allah. Kita mau menyisihkan waktu bermain badminton untuk pergi berdoa bersama di lingkungan. Kita bahkan mau membatalkan rekreasi keluarga karena ada tetangga yang harus dibawa ke rumah sakit. Kita memang sudah menjadi kristen karena pembaptisan. Tetapi mengikuti Yesus adalah perjalanan. Suatu proses. Kita diminta untuk terus belajar melepaskan setiap hari. Tuntutan seperti ini memang melampaui kemampuan kita. Karena itu, kita perlu rendah hati berdoa memohon rahmat Tuhan supaya kita mampu mengutamakan Kerajaan Allah. Sebab mengikuti Yesus berarti selalu siap untuk Kerajaan Allah.
            Mengikuti Yesus itu memang tidak mudah, tetapi siapa yang siap mengikutiNya harus berani mengutamakan Kerajaan Allah.Dia tidak perlu merasa takut dan gentar. Sebab Yesus sendirilah yang akan berjalan bersama-sama dengan dia. Ah, sekiranya kita mau benar-benar percaya pada Yesus. Sekiranya kita mau belajar menerima penolakan, belajar melepaskan ikatan yang menghalangi kita. Kita pasti dipenuhi oleh rahmat Tuhan. Rahmat Tuhanlah yang membuat kita sanggup berjalanmengikuti Dia. Apapun tantangannya.

Fr. Charles Leta, SMM


           

Jumat, 21 Juni 2013

JALAN YESUS JALAN DERITA

Hari Minggu Biasa 12
Bacaan Injil: Luk 9:18-24

            
                Ada sepasang kekasih. Hubungan pacaran mereka sedang memburuk. Sampai suatu saat keduanya bertengkar hebat. Si gadis berkata: “Aku sudah lelah dengan hubungan kita. Kamu sudah berubah. Dan Aku tidak mengenalmu lagi !” Suatu hubungan entah hubungan kasih suami-isteri maupun pertemanan selalu dibangun di atas dasar saling mengenal. Kita tidak akan betah berhubungan dengan orang yang tidak kita kenali dengan baik, bukan? Demikian pula hubungan iman kita dengan Yesus juga harus dibangun di atas dasar saling mengenal. Meskipun pengenalan kita tentang Yesus tidak sekali jadi. Dengan percaya kepadaNya, kita mau semakin mengenalNya dengan lebih baik. Injil hari minggu biasa 12 ini berbicara tentang hal mengenal Yesus. Para murid mengenal Yesus dan Yesus memperkenalkan diriNya kepada mereka.
Yesus bertanya kepada muridNya: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” Yesus mau tahu apa yang para murid dengar dari orang lain tentang diriNya. Ada yang mengatakan Yesus itu Yohanes Pembaptis, Elia dan ada pula yang menganggapNya Nabi. Rupanya, orang banyak membandingkan Yesus dengan tokoh-tokoh penting yang mereka kenal. Tetapi Yesus tidak menanggapi pendapat ini. Yesus justru menyampaikan pertanyaan yang lebih pribadi kepada murid-muridNya: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Yesus ingin tahu pendapat para murid sendiri tentang diriNya. Apakah pendapat mereka sama saja dengan pendapat orang banyak tadi? Atas nama para murid, Petrus memberi jawab bahwa Yesus adalah Mesias*** dari Allah atau “Yang Diurapi” Allah. Demikian para murid mengenal Yesus.
            Pertanyaan yang sama juga diajukan kepada kita, murid-murid Yesus masa kini: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Kita belum sungguh murid Yesus kalau kita belum mengenalNya secara pribadi, kalau kita belum punya pendapat sendiri dan masih sekadar ikut-ikutan saja dengan pendapat orang banyak. Mengenal Yesus secara pribadi berarti mengenal Yesus dalam pengalaman dan perjumpaan kita sendiri. Misalnya menurut kita Yesus seperti seorang sahabat, karena Dia selalu dekat dengan kita, tak peduli seperti apa situasi hidup kita. Tetapi inipun tidak berarti bahwa kita harus mempunyai pendapat yang sama sekali baru tentang siapa Yesus. Kita bisa tetap mengenali Yesus seperti yang diajarkan oleh Gereja. Kalau bersama Gereja kita percaya Yesus adalah Tuhan, maka pertanyaannya sekarang: bagaimana kita mengalami kehadiran Yesus sebagai Tuhan dalam hidup kita sendiri? Kalau Yesus adalah Penyelamat, maka seperti apa kita mengalami kasih penyelamatan Yesus itu? Manisnya sebiji apel baru kita rasakan, kalau kita memakannya sendiri. Demikian pula pengenalan kita kepada Yesus baru lengkap, kalau kita mengalami sendiri kehadiranNya.
            Akan tetapi, siapa Yesus sebenarnya bukanlah sekadar hasil pikiran, pendapat atau pengalaman kita manusia saja. Siapa Yesus yang sebenarnya baru kita ketahui kalau Yesus sendirilah yang memberitahukannya kepada kita. Dan kita bersyukur bahwa dalam InjilNya hari ini, kita boleh mendengarkan Yesus yang memperkenalkan diriNya sendiri kepada kita. Apa yang dikatakan Yesus tentang diriNya sendiri? Bahwa Dia “harus banyak menderita”, “ditolak oleh para pemimpin Yahudi”, lalu “dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga”. Jadi, Yesus adalah Tuhan yang Menderita. Itulah kebenaran sejati tentang Yesus yang dikatakan dari mulut Yesus sendiri. Kita tidak memiliki Tuhan yang hanya berdiam dalam kemegahan tahtaNya di surga. Kita memiliki Tuhan yang solider dan mau menjadi sama seperti kita. Tuhan yang sekaligus Manusia. Bahkan lebih dari itu, Tuhan yang rela menderita dan mati untuk keselamatan kita. Sungguh jalan Yesus adalah jalan derita. Penderitaan adalah suatu keharusan. Karena itu, Yesus mengingatkan kita bahwa barang siapa mau mengikutiNya harus berani memanggul salibnya setiap hari dan berani kehilangan nyawa “karena Yesus”. Setiap murid harus ikut serta dalam nasib gurunya. Kalau Yesus dulu dilawan oleh karena sikap, gaya hidup dan pengajaranNya, maka demikian pula kita harus siap menderita karena kita memilih hidup seperti Yesus. Ini bukan sembarang penderitaan, tetapi penderitaan yang kita terima karena iman kita akan Yesus Kristus. Misalnya saja, kita mau hidup pas-pasan, menolak kaya dengan cara-cara instan dan tidak jujur. Kita siap kehilangan waktu dan kecapaian karena memilih ambil bagian dalam pelayanan Gereja. Kita berani untuk dianggap sok suci karena rajin ikut misa hari Minggu, dan masih banyak lagi. Semua kesulitan itu mau kita tanggung dengan gembira hati karena kita tidak mau setengah-setengah sebagai murid Yesus.
            Saudara terkasih, Kita adalah murid-murid Yesus kalau kita mengenal Yesus. Mengenal Yesus berarti menerima dengan penuh iman apa yang dikatakan Yesus tentang diriNya dan berani berjalan mengikuti Dia. Dua hal ini merupakan satu kesatuan. Kita sungguh mengenal Yesus kalau kita percaya kepadaNya dan berani menderita karenaNya. Kita mungkin sudah percaya pada Yesus. Tetapi barangkali kita belum cukup siap menderita karena Yesus. Siapa yang percaya, dia tak akan ragu menderita untuk Yesus. Sebab jalan Yesus adalah jalan Derita. Tapi jangan kuatir, Tuhan selalu menyanggupkan kita. ***

Fr. Charles Leta, SMM



*** Catatan: Kata “Mesias” berasal dari kata Ibrani “Masyiakh” yang berarti “Yang diurapi.” Dalam bahasa Yunaninya, “Khristos” (bahasa Arab: “Al-Masih”). Sehingga dalam bahasa Indonesia, kata Mesias sama artinya dengan kata Kristus yang berarti “Yang Diurapi”. Petrus dan para murid lain mengenal Yesus sebagai Mesias dari Allah (atau Kristus atau Al-Masih).


Jumat, 07 Juni 2013

KERJA HATI TAK DAPAT DITUNDA

Hari Minggu Biasa 10
Bacaan Injil: Luk 7: 11-17 (Yesus Membangkitkan Anak Muda di Nain)


Yesus menghidupkan kembali seorang anak muda. Inilah kabar Injil Tuhan Yesus kali ini. Anak muda ini adalah putera tunggal seorang Ibu yang janda. Bisa kita bayangkan betapa besar artinya anak ini bagi sang Ibu. Betapa hebat kesedihannya karena ditinggal mati puteranya. Sang Ibu tidak punya siapa-siapa lagi. Putera satu-satunya telah mati. Dan Yesus melihat rombongan pengusung jenasah anak muda itu. Yesus melihat sang Ibu dan seketika HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN. Dia menghibur Ibu itu, menghampiri usungan jenasah dan menghidupkan kembali anak muda yang telah mati itu. Bagaimana reaksi sang ibu tidak dikatakan kepada kita. Mungkin karena bukan itu yang terpenting untuk kita. Yang penting bahwa Yesus kemudian menyerahkan anak muda itu kepada ibunya. Kehidupan anak itu berasal dari Yesus. Tanpa Yesus, anak muda itu tidak akan pernah hidup kembali.
Kita pasti sepakat bahwa peristiwa ini adalah sebuah mukjizat. Yesus dengan kuasaNya membangkitkan orang yang sudah mati. Hal yang tidak pernah bisa kita lakukan. Juga tidak pernah kita jumpai saat ini. Tetapi jangan lupa, mukjizat besar ini berawal dari satu hal ini: HATI YESUS LEBIH DAHULU DIGERAKKAN OLEH RASA KASIHAN. Yesus bukan tanpa urusan saat itu. Dia sedang dalam perjalanan masuk kota Nain. Dia mau mengajar di sana. Tetapi ketika melihat sang Ibu yang bersedih kehilangan anaknya, Yesus memutuskan berhenti dan melakukan sesuatu untuk Ibu yang berduka itu. Inilah pesan Yesus untuk kita hari ini. Mari mengasah hati, membiarkan hati kita digerakkan oleh rasa kasihan ketika berjumpa dengan orang-orang yang berkesulitan. Jangan ragu untuk selalu berhenti sejenak dari urusan-urusan kita. Melihat dan menghampiri mereka, menghibur dan menguatkan mereka. Kita memang tidak akan bisa menghidupkan mereka yang mati. Tetapi kita bisa menghidupkan mereka yang mati semangat dan harapannya. Mereka yang berduka karena beragam pengalaman kehilangan. Tak usah jauh-jauh. Lihatlah orang-orang dekat di sekitar kita. Lakukan sesuatu untuk mereka. Kita bisa melakukannya asal kita berani mengenakan hati Yesus. Hati yang selalu siap digerakkan oleh rasa kasihan. Rasa kasihan akan membakar keberanian kita untuk menyisihkan rasa malu atau canggung, maju mendekati mereka dan do something ! Jangan biarkan ego membunuh hati.
Saudara terkasih, kita sama-sama suka facebook-an, bukan? Kalau tidak facebook-an, barangkali twitter atau mengakses situs-situs internet lainnya. Online adalah saat di mana kita benar-benar berada seorang diri di hadapan komputer, berkomunikasi dengan sahabat, kenalan atau kawan baru kita. Apa yang sudah kita alami sejauh ini? Apa yang bisa kita peroleh? Internet memang memudahkan kita mendapatkan banyak informasi, mendekatkan kita dengan orang-orang yang jauh, serta mempertemukan kita dengan kawan-kawan baru. Dan itu tentu saja mengasyikkan. Mendorong kita selalu menyediakan waktu untuk online. Tapi tidak jarang, berada di depan komputer (atau main handphone) justru “menjauhkan” kita dengan orang-orang di dekat kita. Karena asyiknya membalas pesan dan komentar di facebook, kita mungkin saja lupa memperhatikan keadaan di sekitar, orang-orang dekat kita, bahkan lupa dengan pekerjaan kita sendiri. Kalau sudah begitu, mungkin mata kita akan susah melihat kesulitan dan penderitaan orang lain. Kalaupun melihat, kita belum tentu mau segera berhenti dari kesibukan kita sendiri dan mendekati mereka. Inilah salah satu tantangan bagi kita yang mau mengikuti Yesus dengan lebih baik. Kita belum cukup sigap mengulurkan tangan dan bantuan. Barangkali bukan karena kita tidak melihat. Bukan pula karena kita tak punya hati. Tapi kita belum berani membiarkan diri digerakkan oleh mata dan hati kita. Mengapa? Karena kita sering beranggapan: “Semua orang juga susah, kok!”, “Malu ah, nanti dibilang suka sibuk dengan urusan orang lain !” atau “Nanti saja, saya masih sibuk !”
Tuhan mau memakai setiap kita sebagai nabiNya. Tuhan mau supaya siapapun yang hidup dengan kita, yang kita temui setiap hari, karena kehadiran kita, mereka boleh memuji Tuhan dengan berkata “Allah telah melawat umatNya” (ay.16), Allah telah menunjukkan kasihNya. Karena itu, kapanpun dan dimanapun, kenakanlah Hati Yesus. Hati yang tidak mau menunda-nunda belas kasih. Apakah itu berarti kita berhenti facebook-an atau nge-twit? Tentu tidak donk. Tapi kalau online, jangan lupa mengenakan hati Yesus. Kalau kita peka, di facebookpun kita temukan banyak teman yang bersusah hati, mereka yang bersedih, galau dan gamang, bahkan kehilangan harapan hidup. Jadilah murid Yesus di sana. Tak usah malu memberikan dukungan dan penghiburan, tak usah ragu mengatakan “saya mendoakanmu” atau “Tuhan Yesus memberkatimu”, tak usah takut dibilang “sok kudus, sok suci !”. Karena kalau kita bangga sebagai pengikut Yesus, kita tak pernah mau menunda-nunda belas kasih, bukan? Dan jangan lupa, orang-orang di kehidupan nyata: sanak keluarga, tetangga, teman sekost dan sekampus, atau bahkan yang baru kita kenalpun, merekalah yang sangat dekat dengan kita, merekapun membutuhkan kesediaan hati kita untuk membantu. Buka mata untuk melihat, mengunjungi, menghibur dan menghidupkan semangat mereka. Jadilah seberkas terang dalam kegelapan hidup mereka. Jangan takut, kepada kita yang setia, “Tuhanpun berlaku setia…” (Mzm 18:26).
Dan mari kita bersama berdoa: “Tuhan, jadikanlah hati kami seperti hatiMu, hati yang tak pernah menunda-nunda belas kasih”, Amin.    

Fr. Charles Leta, SMM