Sabtu, 13 April 2013

MEREKA TIDAK MENANGKAP APA-APA


Hari Minggu Paskah III, 14 April 2013
Bacaan Injil:  Yoh 21:1-14


            Saudara terkasih, kita memasuki pekan ketiga masa Paskah. Pernahkah anda mengalami pengalaman tidak mengenali orang yang sudah anda kenal sebelumnya? Kita bertemu dengan orang itu, tetapi kita sama sekali tidak mengenalnya lagi. Hal ini dialami para murid ketika bertemu dengan Yesus setelah kebangkitanNya. Mari merenungkan sejenak peristiwa itu dalam Injil mengenai kisah penampakan Yesus di pantai danau Tiberias hari ini.  
            MURID-MURID TIDAK MENGENALI YESUS YANG BERDIRI DI DEKAT MEREKA. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bukankah dalam kisah penampakan sebelumnya, para murid sudah mengenali Yesus yang bangkit? Tapi kenapa sekarang tidak? Inilah hal pertama yang kita jumpai dalam Injil. Kisahnya demikian, Simon Petrus dan keeenam murid lain pergi menangkap ikan di malam hari. Tapi malam itu, MEREKA TIDAK MENANGKAP APA-APA. Ketika hari sudah siang, Yesus rupanya berdiri di pantai danau itu, tetapi para murid sama sekali tidak tahu kalau itu Yesus. Kenapa para murid sampai tidak bisa mengenal Yesus? Apakah wajah Yesus sudah berubah? Atau jarak antara perahu para murid dan tempat Yesus berdiri terlalu jauh sehingga wajah Yesus susah dikenali? Injil sama sekali tidak mengatakan alasannya. Tapi peristiwa ini menyadarkan kita bahwa Yesus hadir dalam keseharian hidup para Murid yang adalah nelayan itu. Ia hadir saat para murid sedang bekerja mencari ikan. Demikian Yesus juga hadir dalam keseharian hidup kita, dalam pekerjaan, sekolah, kuliah atau apapun kegiatan kita, entah di kantor, kampus, pasar, rumah, kost atau di manapun. Tapi seperti para murid, barangkali kita sering TIDAK TAHU atau TIDAK SADAR bahwa Yesus sedang berada di dekat kita.
            Akan tetapi, para murid akhirnya bisa mengenali Yesus. Adalah seorang MURID YANG DIKASIHI YESUS yang pertama berkata: “Itu Tuhan.” Murid itu mengenali Yesus setelah sadar bahwa PERINTAH YESUS untuk menebarkan jala di sebelah kanan perahu memang menuai hasil. Jala mereka penuh dengan ikan. Tadinya mereka tidak mendapat apa-apa. Tetapi setelah mengikuti SABDA YESUS: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh !”, mereka pun memperolehnya. Mengapa murid itu segera yakin bahwa itu Yesus? Tidak lain karena ia sadar bahwa hanya Yesuslah yang memiliki kuasa melakukan keajaiban seperti itu. Perintah Yesus penuh wibawa. Apa yang disabdakanNya pasti terjadi. Sampai di sini kita boleh melihat satu kebenaran ini: hanya karena mendengarkan sabda Yesus, para murid mendapatkan ikan.
            Saudara terkasih, ketika anda sekalian membaca renungan singkat ini atau mendengarkan Injil di Gereja esok, mungkin anda sedang mengalami sendiri pengalaman “Tidak Menangkap Apa-Apa”. Boleh jadi, pekerjaan kita sekarang belum memberi banyak hasil atau bahkan belum mendapatkan pekerjaan sama sekali. Suami atau isteri anda belum memberikan kebahagiaan yang anda harapkan. Barangkali anak-anak anda tumbuh tidak sesuai yang anda cita-citakan. Kuliah anda berjalan lesu, tidak ada jaminan pasti bahwa nanti setelah selesai akan mudah mendapatkan pekerjaan, sementara itu tidak sedikit uang yang sudah dihabiskan. Dalam pengalaman-pengalaman kita ini, Tuhan Yesus datang dan meyakinkan kita bahwa IA HADIR dan HIDUP DALAM KESEHARIAN KITA. Inilah Iman Paskah kita. Yesus sudah bangkit dan kini tinggal di antara kita. Dia ada di dekat kita, Ia hadir dalam pengalaman perjuangan kita setiap hari. Yesus mengundang kita untuk percaya akan kehadiranNya yang nyata dan akrab.
            Tapi barangkali hati kita berontak bila terus-menerus diminta percaya kepadaNya. “Ah, apalah arti percaya, bila Tuhan belum mengubah keadaan hidup saya?” “Apalah arti percaya, bila dari dulu hidup saya begini-begini saja?” Mungkin kita kecewa, karena Tuhan tidak seperti Google, meminta data apa saja pasti tersedia dengan cepat (meski belum tentu benar !), atau tidak seperti Kantong ajaib Dora Emon, yang bisa menyediakan alat apa saja yang memudahkan segala sesuatu. Percaya pada Tuhan bukan pil derita atau obat rasa sakit. Kita bahkan seperti belum mendapat apa-apa meskipun percaya padaNya, rajin ke Gereja, berdoa dan sebagainya. Apakah benar demikian? Ataukah mata hati kita saja yang tertutup untuk tidak melihat bahwa sebetulnya ada banyak anugerah yang sudah diberikan kepada kita. Kita tidak bisa melihatnya karena mata hati kita terlalu tertuju pada apa yang belum kita dapatkan. Kita menjadi kurang bersyukur dan mudah merasa belum mendapatkan apa-apa.
            Saudara terkasih, para murid baru bisa memperoleh ikan setelah MENURUTI PERKATAAN TUHAN. Ini sebuah peringatan sekaligus undangan bagi kita untuk terus hidup dalam kesadaran bahwa Tuhan hadir dan berbicara kepada kita setiap hari. Persoalannya, apakah kita sudah cukup mendengarkan Sabda Tuhan dan hidup seturut perkataanNya? Berapa menit dalam sehari kita sediakan untuk diam dan merenungkan apa yang dikatakan Tuhan melalui pengalaman hidupku hari ini? Berapa menit dalam sehari kita relakan untuk sejenak membuka Kitab Suci dan membacanya? Bagaimana mungkin kita tahu apa yang dikehendaki Tuhan kalau kita tidak mempersilahkanNya berbicara kepada kita? Tuhan pasti setia pada kita yang mau setia, meski dengan bersusah payah. ***

Fr. Charles, SMM


    
                     

2 komentar:

  1. Setuju ter.... sejak kebangkitannya Ia selalu menyertai kita dan tdk pernah meninggalkan kita, .
    dan Yesus pun mengajak kita untuk percaya kepada-Nya walaupun kadang bagi kita itu sulit...

    Met hari minggu Fr. Charles :)

    "Lia"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mat hari Minggu juga, Berkat Tuhan menyertai.

      Hapus