Jumat, 03 Mei 2013

DAMAI BAGI PARA KEKASIH


Hari Minggu Paskah VI, 4 Mei 2013
Bacaan Injil:  Yoh 14:23-28

        
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Ada seorang bapak yang merasa sangat gelisah. Wajahnya terlihat kuatir. Mau bekerja tidak tenang. Mau makanpun tidak berselera. Hatinya tidak damai. Sekian tahun menjadi seorang Katolik taat, hidupnya tidak baik-baik juga. Ia patah semangat. Tuhan belum memberikan penghasilan yang cukup seperti yang Ia harapkan. Kegelisahan Bapak ini juga mungkin dialami oleh banyak orang lain. Ketika cita-cita dan harapan hidup belum tercapai, orang gampang merasa bahwa beriman tidak membawa hasil apa-apa. Tuhan tidak peduli dengan kehidupannya. Kalau begitu, apa gunanya lagi hidup taat sesuai firman Tuhan? Dalam situasi seperti itu, apa yang sebaiknya dilakukan? Tetap mengasihi Yesus apapun situasinya.
Orang yang mengasihi Yesus akan menuruti firmanNya. Mengasihi. Kata yang sudah sangat sering kita dengar. Tetapi apa yang mau dikatakan Yesus kali ini tentang mengasihi Dia? Apa hubungan antara mengasihi Yesus dan menuruti firmanNya? Menuruti firman Yesus, itulah pernyataan kasih kita kepadaNya. Kita mau taat pada firman Yesus karena kita mengasihiNya. Mengasihi Yesus berarti mau berpegang pada firmanNya, mau mendasarkan hidup kita pada firmanNya dan mau melakukan apapun yang diperintahkanNya kepada kita. Kita membiarkan hati kita dikuasai dan dituntun oleh firman Yesus. Hati yang sepenuhnya taat pada kehendak Yesus. Ketaatan seperti ini bukan sebuah keterpaksaan. Ketaatan pada Yesus harus merupakan sebuah keputusan karena kasih. Kasih yang demikian bukan mengenai rasa cinta saja. Kasih kepada Yesus mengandung komitmen hati untuk memberikan diri. Seluruhnya, segenap hati, jiwa dan tenaga kita hanya untuk kehendakNya saja. Sebab mengasihi Yesus berarti kita sudah memilih Yesus sebagai satu yang terbaik bagi hidup kita. Karena itu, menuruti firmanNya adalah pekerjaan terbaik yang mau kita lakukan dalam seluruh hidup kita. Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, tanpa berhenti. Maka kita sekalian diundang untuk semakin taat pada firman Yesus. Mungkin kita sudah sangat akrab dengan Kitab Suci. Kita rajin mengikuti setiap kesempatan untuk merenungkannya bersama di lingkungan, mendalaminya melalui homili saat Ekaristi atau bahkan membacanya dengan tekun secara pribadi. Tetapi soalnya adalah apakah kita sudah cukup merelakan hati kita dituntun oleh firman Yesus itu? Bukankah kita lebih sering mengikuti kehendak kita sendiri karena tuntutan Yesus memang lebih berat rasanya. Atau barangkali kita justru lebih sering lupa pada firman Yesus. Kita tidak mengingatnya sama sekali. Setelah Misa misalnya, semuanya buyar. Karena sering lupa, kita lalu mudah melalaikan perintah-perintah Yesus dalam hidup setiap hari. Jika kita sungguh mengasihi Yesus, kita tidak mau lalai menaati firmanNya.
Sebagai balasan ketaatan kita kepada firmanNYA, Yesus memberikan damai sejahteraNya bagi kita. Tetapi damai sejahtera seperti apa yang diberikan Yesus? Pernyataan ini disampaikan Yesus di saat-saat terakhir Ia ada bersama para muridNya. Yesus akan pergi. Ia yang telah bangkit akan kembali kepada BapaNya. Secara fisik Yesus memang tidak ada lagi bersama para murid. Mereka tidak akan pernah melihat lagi Yesus sama seperti sebelumnya. Karena itulah Yesus meninggalkan damai sejahtera bagi para muridNya. Damai sejahtera ini tidak sama seperti yang diberikan oleh dunia kepada kita. Damai ini bukan pertama-tama soal keadaan di mana tidak terjadi pertengkaran, perselisihan, kegagalan, sakit dan persoalan hidup lainnya. Damai sejahtera ini mengenai keadaan batin kita. Hati-batin kita akan damai selama kita memiliki hubungan pribadi yang mesra dengan Yesus. Yesus memang pergi. Tetapi Dia mau kembali ke dalam hati kita yang mengasihiNya dengan sungguh. Yesus tinggal dalam hati kita. Yesuslah sumber damai kita yang sejati. Dia yang tinggal dalam hati kita akan meneguhkan kita, bahkan di saat-saat sulit hidup kita. Karena itu Yesus berkata “Jangan gelisah dan gentar hatimu!” Damai Yesus ini menyanggupkan kita bertahan dalam situasi sesulit apapun, membuat kita berani maju bahkan ketika situasi tidak mendukung kita. Yesus tidak menjanjikan bahwa hidup kita akan baik-baik saja. Persoalan dan kesulitan adalah bagian dari kehidupan kita. Kita tidak bisa menghindarinya. Tetapi Yesus menjanjikan bahwa damaiNya selalu ada bersama kita. Apapun keadaan kita, seberat apapun persoalan kita, Yesus selalu tinggal bersama kita selama kita mau membuka hati bagiNya.  Yesuslah yang menghibur kita. Dia menyanggupkan kita berjalan ke depan, walau hari-hari hidup kita penuh tantangan dan kesulitan. Sebab damai sejahtera yang sejati hanya kita temukan bila bersama Yesus.
            Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, banyak orang mudah gelisah karena persoalan hidupnya, tetapi siapa yang mau menuruti firman Yesus dengan sungguh akan mengalami damai sejahtera. Siapapun pasti mengalami persoalan, tapi hanya sedikit dari mereka yang bertahan. Tidak sedikit pula yang melarikan diri ke perbuatan lain yang justru semakin membahayakan hidup mereka. Yesus meminta kita mencari dia, melarikan diri ke dekapanNya. Dalam Yesus ada ketenangan hati. Selalu ada damai bagi kita para kekasihNya. Amin.

Fr. Charles Leta, SMM 







4 komentar:

  1. Mat hari minggu Fr. Charles....:)

    BalasHapus
  2. Mat hari minggu pula, damai Tuhan besertamu dan keluarga...:)

    BalasHapus
  3. thanks kk utk renungannya....
    "Apapun keadaan kita, seberat apapun persoalan kita, Yesus selalu tinggal bersama kita selama kita mau membuka hati bagiNya." Amin :)

    BalasHapus
  4. kembali kasih Je...senang kau mau mampir membacanya, semoga boleh bermanfaat buat kehidupanmu. Tuhan Yesus memberkati, ine..:)

    BalasHapus